Last night I went to attend a consolation service for a distant aunt who passed away one day before. My other aunt rang me yesterday and informed me that, asking if I wanted to go. I recall the late aunt as someone I and Mom once or twice visited when I was in Surabaya. I called Mom to let her know this news and she sounded sad on the line.
She was Mom's distant cousin (two times if I'm not mistaken), but they were so close because they used to live under one roof when they took their college degree in Kupang. Under the same repression if I may say, to me it was almost like slavery because of all those physical chores that they must borne for exchange of the shelter and food. They survived the difficult years though. She's of the same age with Mom. While Mom has reached her 70 last April, she should reach 70 this next July. Sixty nine that's the age her Maker has decided from the beginning for her to stop roaming in this world, to start roaming in another world. I saw the flyer says so, 69, rest in peace.
And this morning, while I called Mom to say that I have passed her condolence to the aunt's son (the only person whose face I recognized last night), she said thanks and said that she's in her sister's house, ready for the wedding ceremony of a cousin.
At the very same morning, two opposite occasions take place. First, a funeral, and second, a wedding. Look at how life brings different plate for different people/family. Grief and happiness, sorrow and feast. The diametrical events just took place at the very same morning, under this very same old sky.
Tuesday, June 4, 2013
Monday, May 20, 2013
Perempuan malas vs perempuan rajin
Sudah beberapa lama saya sempat off nonton tv untuk beberapa hari karena muak dengan berita-berita tentang suap impor sapi dan skandal gratifikasi dan pencucian uang yang melibatkan partai P*S serta semua berita tidak relevan lain dengan negara ini seperti Eyang Stupid dll yang hanya membuat tensi naik. Kemuakan saya memuncak ketika tv satu mewawancarai salah satu perempuan yang dengan muka sok innocent mengaku tidak mengerti kenapa orang yang baru kenal sudah mau memberikan uang jutaan bahkan ratusan juta. Didn't she think Indonesians have brain???
Namun pada suatu pagi saya memutuskan, okay, let's see what happens out there..jadinya saya setel juga tv itu. Tv 'satu' sedang menayangkan running text: jumlah perempuan yang tersangkut pencucian uang itu sudah 30 orang!
Dengan rasa kantuk yang masih menyerang karena tidur larut malam sebelumnya, saya mendengar bunyi kran air di area cuci di belakang kamar tidur saya dihidupkan. Bunyi pancaran air yang jatuh dengan kencang ke ember-ember cucian menyadarkan bahwa si mbak P*ni, tukang cuci seterika ibu kos saya, sudah siap memulai pekerjaannya di area cuci itu. Biasanya ia memulai kerjaannya dengan menyeterika, sekitar jam 7.30, kemudian melanjutkan dengan mencuci sekitar jam 8 pagi seperti ini (it explained saya bangun jam berapa :). Rumah ini adalah rumah kedua atau ketiga, dari sekitar lima atau enam rumah yang dia harus datangi setiap hari untuk menjadi tukang cuci setrika. Dengan rata-rata memberikan 250 sampai 300 ribu sebulan, kira-kira ia mendapatkan 1,5 sampai 2 juta sebulan. Mungkin sekitar-sekitar Lebaran dia dapat lebih dari sumbangan sembako, sirup, kue dan lain-lain. Kalau divaluasi, kira-kira paling banyak 3 juta lah yang dia dapat sebulan dari hasil membanting tulang-nya itu. Yes, literally membanting tulang!
Now, suddenly, a flashback from the interview with one of the women who is a model of a male magazine hit my head. This woman, unashamed, unembarrassed, bilang bahwa dia selalu diberikan uang saku sebesar 3 juta (!) setiap kali ia bertemu dengan AF. Selain itu juga AF pernah membelikan jam tangan seharga 70 juta, dan mobil Honda Jazz seharga 250-an juta itu.
Lalu saya mendadak ingat mbak P*ni, juga mbak penjaga kios sebelah, dan mbak tukang sapu taman di kompleks ini, yang setiap hari sudah harus memulai harinya dengan bekerja keras dan membanting tulang demi sesuap nasi. Juga ibu tukang warung perantau dari Sukoharjo yang menjual bakmi Surabaya dekat kantor. Juga nenek yang menjaga toko kelontong di ujung kompleks. Pelayan di RM Aceh dekat kompleks, atau penjaga laundry yang ikut tuannya merantau dari kampungnya di Aceh. Dan perempuan-perempuan miskin pekerja keras lainnya yang selalu saya temui di pasar; yang berjualan sayur dan buah di Pasar Minggu. Yang mungkin seumur hidup mereka tidak pernah membayangkan rasanya melihat uang puluhan dan ratusan juta. Yang tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya memiliki mobil, apalagi mobil bagus.
Tiba-tiba saya marah sampai hampir menangis, entah kenapa. Kepala saya tiba-tiba menjejerkan gambar para perempuan cantik di tv (yang semuanya cantik, berkulit terang dan seksi) dan perempuan-perempuan miskin (yang semuanya kurus, tidak cantik dan berkulit agak gelap) yang yang saya temui sehari-hari, yang riil. Marah kepada hidup, kepada keadaan, kepada nasib? Those things are only circumstances, they are abstract, this anger cannot be addressed to them.
Tidak. Saya lebih marah karena ada isu malas dan rajin di sini. Perempuan-perempuan cantik ini tidak mau bekerja keras, dan tidak mau hidup susah. Hanya dari satu pertemuan, mereka bisa menghasilkan uang setara yang dihasilkan perempuan miskin lain dalam sebulan. Mereka bisa berdandan, mempercantik diri, berkeliaran di mall, rumah makan, hotel bintang lima....dan tidak perlu bekerja keras. Mungkin ada kasus dimana perempuan terjebak ke dalam prostitusi: dijebak hutang, korban trafficking, dan sebagainya. Namun, dalam kasus seperti para perempuan pencuci uang ini, I don't think so.
Dengan umur yang masih muda dan tubuh yang sehat seperti itu, mereka bisa bekerja lebih keras untuk hidup, walaupun tidak menjadi kaya dengan segera. Tapi bukan hanya makanan dan pakaian layak yang mereka butuhkan. Mereka ingin hidup glamour, mewah, makan enak dan pakaian mewah. Dan terlebih, mereka ingin mendapatkannya kalau bisa, dengan sesedikit mungkin energi. Hukum ekonomi berlaku: kalau bisa untung sebanyak-banyaknya dengan modal sesedikit-sedikitnya. Kapitalis.
Dan untuk perempuan-perempuan miskin yang tidak cantik itu, tidak banyak pilihan selain bekerja keras dan memutar otak. Kalau tidak, tidak ada yang akan membayar mereka jutaan untuk sekali pertemuan. Tidak ada yang akan menawarkan mereka menjadi foto model. Tidak. Coping mechanism mereka adalah membanting tulang, cause people in general, will feel more pity and generous to beautiful people than to the ugly ones, so the ugly ones learn to survive harder ways (tiba-tiba ingat tulisan Agus Budiman ,Dunia yang Rupawan, di Kompas 2006 yang lalu (link nya sudah hilang, hanya sisa kutipannya di grup Yahoo: http://groups.yahoo.com/group/indonesia-community/message/6213). Well, saya tidak tahu apakah marah saya ini bisa merubah keadaan. Tapi memang tidak semua pemikiran harus merubah keadaan. Apalagi hanya pemikiran dan rasa marah dipagi hari dari seseorang yang tidak signifikan anyway. Saya hanya mau marah. Dan supaya tidak tinggal di otak saya, saya mau tuliskan kemarahan itu di sini. Pemikiran saya tentang ini rasa-rasanya sudah terwakili dengan tulisan Agus Budiman itu yang saya kutip di sini:
Alangkah menentukannya rupa. Dengan ijazah SMA yang baru diterimanya, anak muda yang tak melanjutkan sekolah dan tak sanggup menjadi petani itu, hijrah dari kampungnya di Jawa Tengah untuk meraih status baru sebagai karyawan swasta di Bekasi atau Jakarta. Saya sodori ia koran edisi Sabtu
dan Minggu yang bertabur iklan lowongan itu.
Selang beberapa jenak, ”Yaaa, untuk S1 semua,” keluhnya, ”Ada sih yang untuk lulusan SMA, tapi saya jelas gugur gara-gara syarat pertama.”
”Lho, memang syarat pertamanya apa?” selidik saya.
”Berpenampilan menarik,” cetusnya kesal seraya menepuk lembar koran itu lalu ngeloyor.
Mulanya saya agak dongkol pada kawan kita ini. Sudah merasa tampangnya tak menarik, kok berani-beraninya punya nilai ijazah pas-pasan. Bukankah seharusnya ia belajar habis-habisan? Biar saja orang lain memutuskan untuk tak akan mati-matian memburu ilmu-sudah cantik, kok. ”People become only as knowledgeable as they need to be, based on how ugly they are,” kata Scott Adams, pencipta komik Dilbert itu berwasangka.
Namun, syarat ”berpenampilan menarik” itu tak urung meneror saya. Kenapa majikan harus memilih yang rupawan dan menyingkirkan yang tidak, bahkan untuk pekerjaan yang hasilnya belum tentu bergantung pada penampakan si bawahan? Atau itukah kelaziman yang tak terhindarkan dalam proses seleksi, lebih-lebih di negara berpuluh juta penganggur ini?
Saya bersekolah di SMP dekat pabrik gula di Pekalongan, tahun 1989-1991. Di sana, siswa yang naik dari kelas satu ke kelas dua atau dari kelas dua ke kelas tiga akan dihimpun dalam enam kelas berdasarkan urutan prestasi akademisnya. Yang paling pintar akan dimasukkan ke kelas II-A atau III-A dan dibanggakan guru dan orangtua; yang paling tidak pintar tercampak di ruang II-F atau III-F dengan
dibayangi ancaman orangtua dan kadang rasa putus asa.
Setelah perlombaan nilai rapor, berkumpullah kebanyakan murid cantik—menurut kriteria saya pada waktu itu, sayangnya, di kelas D, E, F. Saya masuk kelas A (nah, sekarang Anda bisa menduga tampang saya). Alhasil, sejak di SMP itulah, sejenis penyakit curiga menjangkiti saya. Bila melihat yang rupawan, saya segera mencurigai kecerdasannya, tetapi (maaf) kok tidak otomatis sebaliknya. Entah kenapa, dan betapa tak adilnya saya, saya tak langsung yakin yang bertampang ”jelek” akan berotak encer.
Sebagian teman saya yang dulu duduk di kelas E dan F—karena sekolah, teman, dan orangtua berhasil meyakinkan mereka bahwa mereka memang ”bodoh”—tak melanjutkan sekolahnya sama sekali, atau meneruskan, namun tak ke lembaga pendidikan yang dianggap bermutu. Lantas, mereka bekerja di sektor jasa yang banyak melibatkan senyum dan keramahan. Sebagian menjadi kepala desa atau wiraswasta. Alumni kelas A dan B banyak yang melanjutkan ke sekolah yang terbilang bagus, sebagian dengan beasiswa, lalu lulus menjadi dokter, akuntan, dan profesi lain yang relatif tidak mengandalkan tampang, semisal pekerjaan menuliskan ihwal ini.
Tentu tak bisa dikatakan bahwa semua murid kelas A berpenampilan buruk tapi mendapatkan pekerjaan yang lebih baik ketimbang yang dulu di kelas F, atau sebaliknya. Tapi, ditilik dari segi akses kepada kesempatan kerja, si ayu dan si ganteng tampaknya berpeluang lebih untuk lulus pada saringan pertama, yaitu ”razia tampang” yang dilakukan pemberi kerja atau pemilik kapital.
Sialnya lagi, penampilan kerap juga jadi alat seleksi pamungkas. Misalkan Anda seorang bos, dan di depan Anda berdiri dua calon pegawai yang kebetulan berkemampuan sama, Anda tentu memilih yang lebih rupawan, bukan?
Nah, banyak si tampan dan si juwita (dan yang merasa demikian) menyadari ini, dan memanfaatkannya. Sebenarnya Tuhan menganugerahi mereka dengan otak dan potensi kecerdasan yang sama dengan si buruk rupa. Namun, karena tahu dengan keelokan fisiknya itu, mereka toh bisa meniti hidup. Otak mereka terselamatkan dari rumitnya matematika atau canggihnya fisika kuantum.
Di lain pihak, guru, kenalan, dan orangtua seolah tak rela bila si cantik terlalu serius mengasah otak. Si molek terantuk kesulitan sedikit saja, mereka sudah sikut-sikutan menawarkan jasa.
Masyarakat yang latah
Di tempat kerja, si buruk rupa meringkuk di unit penelitian atau produksi, dan yang berpenampilan menarik tadi berkutat di divisi penjualan, pemasaran, humas, atau menjadi sekretaris. Hidup berputar dan terjadilah transaksi: karyawan di bagian produksi menikahi seorang SPG (sales promotion girl), pramuniaga.
Motifnya macam-macam. Bisa demi ”perbaikan keturunan”, bisa pula semacam dendam: ”Awas, Manis, kukawini kau.” Tak semua harus meniru Socrates yang menampik seorang jelita bodoh yang melamarnya demi beroleh keturunan nan cantik-cendekia. Filsuf yang juga guru Plato ini konon malah cemas anak mereka akan buruk rupa sepertinya dan berotak seperti si gadis.
Kita memang punya daftar bertemunya kecerdasan dan kerupawanan dalam satu diri. Kita mencatat, pada para nabi dan banyak orang saleh, dua hal tadi bahkan masih dilengkapi dengan akhlak mulia.
Tapi mungkin daftar itu kurang panjang, sebab seperti yang diam-diam kita akui, kecantikan fisik dan kecerdasan akal agaknya lebih suka bercerai. Maka, dengan lebih giat kita berlomba mencari bahkan ”menciptakan” manusia idaman yang cantik- cerdas itu. Bocah-bocah yang sedang asyik bermain dan belajar melafalkan ”r” sudah kita jewer dan kita genjot habis-habisan otaknya dengan vitamin, metode belajar, dan sekolah yang mahalnya keterlaluan. Rupa kita permak sampai pol lewat klinik hingga rekayasa genetika, termasuk kloning manusia.
Kontes ratu dunia yang gemerlap itu konon menuntut 3B: brain, beauty, behaviour. Agak dipaksakan memang singkatan itu. Sebab, maksud mereka tentu bukan brain (’otak’) yang semua orang punya, melainkan inteligensi (’kecerdasan’). Tapi, demi akronim, apa boleh buat.
Repotnya, kriteria beauty—yang pasti kena untuk pemilihan model pakaian renang dan belum tentu cocok untuk selain itu—kini kita pakai secara meluas, bahkan merupakan faktor penentu dalam pelbagai ajang seleksi. Pemerintah menggunakan istilah beauty contest untuk menentukan perusahaan mana yang akan menjadi penasihat pelelangan surat utangnya. Kita latah, kriteria ini kita bawa-bawa bukan hanya dalam penyaringan gadis sampul atau bintang sinetron, tapi juga dalam pemilihan pembantu, tukang ojek, satpam, penceramah, bupati, wali kota, anggota parlemen, sampai presiden....
Agus Budiman Editor Majalah dan Buku
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0601/20/humaniora/2374889.htm
Namun pada suatu pagi saya memutuskan, okay, let's see what happens out there..jadinya saya setel juga tv itu. Tv 'satu' sedang menayangkan running text: jumlah perempuan yang tersangkut pencucian uang itu sudah 30 orang!
Dengan rasa kantuk yang masih menyerang karena tidur larut malam sebelumnya, saya mendengar bunyi kran air di area cuci di belakang kamar tidur saya dihidupkan. Bunyi pancaran air yang jatuh dengan kencang ke ember-ember cucian menyadarkan bahwa si mbak P*ni, tukang cuci seterika ibu kos saya, sudah siap memulai pekerjaannya di area cuci itu. Biasanya ia memulai kerjaannya dengan menyeterika, sekitar jam 7.30, kemudian melanjutkan dengan mencuci sekitar jam 8 pagi seperti ini (it explained saya bangun jam berapa :). Rumah ini adalah rumah kedua atau ketiga, dari sekitar lima atau enam rumah yang dia harus datangi setiap hari untuk menjadi tukang cuci setrika. Dengan rata-rata memberikan 250 sampai 300 ribu sebulan, kira-kira ia mendapatkan 1,5 sampai 2 juta sebulan. Mungkin sekitar-sekitar Lebaran dia dapat lebih dari sumbangan sembako, sirup, kue dan lain-lain. Kalau divaluasi, kira-kira paling banyak 3 juta lah yang dia dapat sebulan dari hasil membanting tulang-nya itu. Yes, literally membanting tulang!
Now, suddenly, a flashback from the interview with one of the women who is a model of a male magazine hit my head. This woman, unashamed, unembarrassed, bilang bahwa dia selalu diberikan uang saku sebesar 3 juta (!) setiap kali ia bertemu dengan AF. Selain itu juga AF pernah membelikan jam tangan seharga 70 juta, dan mobil Honda Jazz seharga 250-an juta itu.
Lalu saya mendadak ingat mbak P*ni, juga mbak penjaga kios sebelah, dan mbak tukang sapu taman di kompleks ini, yang setiap hari sudah harus memulai harinya dengan bekerja keras dan membanting tulang demi sesuap nasi. Juga ibu tukang warung perantau dari Sukoharjo yang menjual bakmi Surabaya dekat kantor. Juga nenek yang menjaga toko kelontong di ujung kompleks. Pelayan di RM Aceh dekat kompleks, atau penjaga laundry yang ikut tuannya merantau dari kampungnya di Aceh. Dan perempuan-perempuan miskin pekerja keras lainnya yang selalu saya temui di pasar; yang berjualan sayur dan buah di Pasar Minggu. Yang mungkin seumur hidup mereka tidak pernah membayangkan rasanya melihat uang puluhan dan ratusan juta. Yang tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya memiliki mobil, apalagi mobil bagus.
Tiba-tiba saya marah sampai hampir menangis, entah kenapa. Kepala saya tiba-tiba menjejerkan gambar para perempuan cantik di tv (yang semuanya cantik, berkulit terang dan seksi) dan perempuan-perempuan miskin (yang semuanya kurus, tidak cantik dan berkulit agak gelap) yang yang saya temui sehari-hari, yang riil. Marah kepada hidup, kepada keadaan, kepada nasib? Those things are only circumstances, they are abstract, this anger cannot be addressed to them.
Tidak. Saya lebih marah karena ada isu malas dan rajin di sini. Perempuan-perempuan cantik ini tidak mau bekerja keras, dan tidak mau hidup susah. Hanya dari satu pertemuan, mereka bisa menghasilkan uang setara yang dihasilkan perempuan miskin lain dalam sebulan. Mereka bisa berdandan, mempercantik diri, berkeliaran di mall, rumah makan, hotel bintang lima....dan tidak perlu bekerja keras. Mungkin ada kasus dimana perempuan terjebak ke dalam prostitusi: dijebak hutang, korban trafficking, dan sebagainya. Namun, dalam kasus seperti para perempuan pencuci uang ini, I don't think so.
Dengan umur yang masih muda dan tubuh yang sehat seperti itu, mereka bisa bekerja lebih keras untuk hidup, walaupun tidak menjadi kaya dengan segera. Tapi bukan hanya makanan dan pakaian layak yang mereka butuhkan. Mereka ingin hidup glamour, mewah, makan enak dan pakaian mewah. Dan terlebih, mereka ingin mendapatkannya kalau bisa, dengan sesedikit mungkin energi. Hukum ekonomi berlaku: kalau bisa untung sebanyak-banyaknya dengan modal sesedikit-sedikitnya. Kapitalis.
Dan untuk perempuan-perempuan miskin yang tidak cantik itu, tidak banyak pilihan selain bekerja keras dan memutar otak. Kalau tidak, tidak ada yang akan membayar mereka jutaan untuk sekali pertemuan. Tidak ada yang akan menawarkan mereka menjadi foto model. Tidak. Coping mechanism mereka adalah membanting tulang, cause people in general, will feel more pity and generous to beautiful people than to the ugly ones, so the ugly ones learn to survive harder ways (tiba-tiba ingat tulisan Agus Budiman ,Dunia yang Rupawan, di Kompas 2006 yang lalu (link nya sudah hilang, hanya sisa kutipannya di grup Yahoo: http://groups.yahoo.com/group/indonesia-community/message/6213). Well, saya tidak tahu apakah marah saya ini bisa merubah keadaan. Tapi memang tidak semua pemikiran harus merubah keadaan. Apalagi hanya pemikiran dan rasa marah dipagi hari dari seseorang yang tidak signifikan anyway. Saya hanya mau marah. Dan supaya tidak tinggal di otak saya, saya mau tuliskan kemarahan itu di sini. Pemikiran saya tentang ini rasa-rasanya sudah terwakili dengan tulisan Agus Budiman itu yang saya kutip di sini:
Alangkah menentukannya rupa. Dengan ijazah SMA yang baru diterimanya, anak muda yang tak melanjutkan sekolah dan tak sanggup menjadi petani itu, hijrah dari kampungnya di Jawa Tengah untuk meraih status baru sebagai karyawan swasta di Bekasi atau Jakarta. Saya sodori ia koran edisi Sabtu
dan Minggu yang bertabur iklan lowongan itu.
Selang beberapa jenak, ”Yaaa, untuk S1 semua,” keluhnya, ”Ada sih yang untuk lulusan SMA, tapi saya jelas gugur gara-gara syarat pertama.”
”Lho, memang syarat pertamanya apa?” selidik saya.
”Berpenampilan menarik,” cetusnya kesal seraya menepuk lembar koran itu lalu ngeloyor.
Mulanya saya agak dongkol pada kawan kita ini. Sudah merasa tampangnya tak menarik, kok berani-beraninya punya nilai ijazah pas-pasan. Bukankah seharusnya ia belajar habis-habisan? Biar saja orang lain memutuskan untuk tak akan mati-matian memburu ilmu-sudah cantik, kok. ”People become only as knowledgeable as they need to be, based on how ugly they are,” kata Scott Adams, pencipta komik Dilbert itu berwasangka.
Namun, syarat ”berpenampilan menarik” itu tak urung meneror saya. Kenapa majikan harus memilih yang rupawan dan menyingkirkan yang tidak, bahkan untuk pekerjaan yang hasilnya belum tentu bergantung pada penampakan si bawahan? Atau itukah kelaziman yang tak terhindarkan dalam proses seleksi, lebih-lebih di negara berpuluh juta penganggur ini?
Saya bersekolah di SMP dekat pabrik gula di Pekalongan, tahun 1989-1991. Di sana, siswa yang naik dari kelas satu ke kelas dua atau dari kelas dua ke kelas tiga akan dihimpun dalam enam kelas berdasarkan urutan prestasi akademisnya. Yang paling pintar akan dimasukkan ke kelas II-A atau III-A dan dibanggakan guru dan orangtua; yang paling tidak pintar tercampak di ruang II-F atau III-F dengan
dibayangi ancaman orangtua dan kadang rasa putus asa.
Setelah perlombaan nilai rapor, berkumpullah kebanyakan murid cantik—menurut kriteria saya pada waktu itu, sayangnya, di kelas D, E, F. Saya masuk kelas A (nah, sekarang Anda bisa menduga tampang saya). Alhasil, sejak di SMP itulah, sejenis penyakit curiga menjangkiti saya. Bila melihat yang rupawan, saya segera mencurigai kecerdasannya, tetapi (maaf) kok tidak otomatis sebaliknya. Entah kenapa, dan betapa tak adilnya saya, saya tak langsung yakin yang bertampang ”jelek” akan berotak encer.
Sebagian teman saya yang dulu duduk di kelas E dan F—karena sekolah, teman, dan orangtua berhasil meyakinkan mereka bahwa mereka memang ”bodoh”—tak melanjutkan sekolahnya sama sekali, atau meneruskan, namun tak ke lembaga pendidikan yang dianggap bermutu. Lantas, mereka bekerja di sektor jasa yang banyak melibatkan senyum dan keramahan. Sebagian menjadi kepala desa atau wiraswasta. Alumni kelas A dan B banyak yang melanjutkan ke sekolah yang terbilang bagus, sebagian dengan beasiswa, lalu lulus menjadi dokter, akuntan, dan profesi lain yang relatif tidak mengandalkan tampang, semisal pekerjaan menuliskan ihwal ini.
Tentu tak bisa dikatakan bahwa semua murid kelas A berpenampilan buruk tapi mendapatkan pekerjaan yang lebih baik ketimbang yang dulu di kelas F, atau sebaliknya. Tapi, ditilik dari segi akses kepada kesempatan kerja, si ayu dan si ganteng tampaknya berpeluang lebih untuk lulus pada saringan pertama, yaitu ”razia tampang” yang dilakukan pemberi kerja atau pemilik kapital.
Sialnya lagi, penampilan kerap juga jadi alat seleksi pamungkas. Misalkan Anda seorang bos, dan di depan Anda berdiri dua calon pegawai yang kebetulan berkemampuan sama, Anda tentu memilih yang lebih rupawan, bukan?
Nah, banyak si tampan dan si juwita (dan yang merasa demikian) menyadari ini, dan memanfaatkannya. Sebenarnya Tuhan menganugerahi mereka dengan otak dan potensi kecerdasan yang sama dengan si buruk rupa. Namun, karena tahu dengan keelokan fisiknya itu, mereka toh bisa meniti hidup. Otak mereka terselamatkan dari rumitnya matematika atau canggihnya fisika kuantum.
Di lain pihak, guru, kenalan, dan orangtua seolah tak rela bila si cantik terlalu serius mengasah otak. Si molek terantuk kesulitan sedikit saja, mereka sudah sikut-sikutan menawarkan jasa.
Masyarakat yang latah
Di tempat kerja, si buruk rupa meringkuk di unit penelitian atau produksi, dan yang berpenampilan menarik tadi berkutat di divisi penjualan, pemasaran, humas, atau menjadi sekretaris. Hidup berputar dan terjadilah transaksi: karyawan di bagian produksi menikahi seorang SPG (sales promotion girl), pramuniaga.
Motifnya macam-macam. Bisa demi ”perbaikan keturunan”, bisa pula semacam dendam: ”Awas, Manis, kukawini kau.” Tak semua harus meniru Socrates yang menampik seorang jelita bodoh yang melamarnya demi beroleh keturunan nan cantik-cendekia. Filsuf yang juga guru Plato ini konon malah cemas anak mereka akan buruk rupa sepertinya dan berotak seperti si gadis.
Kita memang punya daftar bertemunya kecerdasan dan kerupawanan dalam satu diri. Kita mencatat, pada para nabi dan banyak orang saleh, dua hal tadi bahkan masih dilengkapi dengan akhlak mulia.
Tapi mungkin daftar itu kurang panjang, sebab seperti yang diam-diam kita akui, kecantikan fisik dan kecerdasan akal agaknya lebih suka bercerai. Maka, dengan lebih giat kita berlomba mencari bahkan ”menciptakan” manusia idaman yang cantik- cerdas itu. Bocah-bocah yang sedang asyik bermain dan belajar melafalkan ”r” sudah kita jewer dan kita genjot habis-habisan otaknya dengan vitamin, metode belajar, dan sekolah yang mahalnya keterlaluan. Rupa kita permak sampai pol lewat klinik hingga rekayasa genetika, termasuk kloning manusia.
Kontes ratu dunia yang gemerlap itu konon menuntut 3B: brain, beauty, behaviour. Agak dipaksakan memang singkatan itu. Sebab, maksud mereka tentu bukan brain (’otak’) yang semua orang punya, melainkan inteligensi (’kecerdasan’). Tapi, demi akronim, apa boleh buat.
Repotnya, kriteria beauty—yang pasti kena untuk pemilihan model pakaian renang dan belum tentu cocok untuk selain itu—kini kita pakai secara meluas, bahkan merupakan faktor penentu dalam pelbagai ajang seleksi. Pemerintah menggunakan istilah beauty contest untuk menentukan perusahaan mana yang akan menjadi penasihat pelelangan surat utangnya. Kita latah, kriteria ini kita bawa-bawa bukan hanya dalam penyaringan gadis sampul atau bintang sinetron, tapi juga dalam pemilihan pembantu, tukang ojek, satpam, penceramah, bupati, wali kota, anggota parlemen, sampai presiden....
Agus Budiman Editor Majalah dan Buku
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0601/20/humaniora/2374889.htm
Saturday, April 27, 2013
Late night tranquil city
Every time I pass through this city center at night, with its sky scrappers' colorful lights.
Silent.
Quiet.
Just some mellow music from the car's audio, keeps singing with long, high pitch, tearing the skies above. Blue.
Yellow.
Red.
Green.
Then Phil Collins sings 'All of my life,'.
And the halogen lamps blink.
And I sing too.
I love the tranquility of the city center late at night,
where I can pretend, that everything's all right.
Like the roads can pretend
that the vehicles can speed in this part of the city
like now.
September 28, 2012
Silent.
Quiet.
Just some mellow music from the car's audio, keeps singing with long, high pitch, tearing the skies above. Blue.
Yellow.
Red.
Green.
Then Phil Collins sings 'All of my life,'.
And the halogen lamps blink.
And I sing too.
I love the tranquility of the city center late at night,
where I can pretend, that everything's all right.
Like the roads can pretend
that the vehicles can speed in this part of the city
like now.
September 28, 2012
Sudut Kota Tua
Melihat lagi daerah kumuh dan padat, kali ini di Ibu Kota, masih menyebabkan rasa miris yang sama dengan ketika melihat mungkin ratusan daerah kumuh di Surabaya hampir satu dasawarsa yang lalu.
Sekelompok buruh angkut yang bergerombol entah apa yang sedang diobrolin, sambil menyeka keringat di wajah mereka yang gelap dan berminyak. Tatapan mata yang keras ditempa sulitnya hidup, bercampur dengan sejenis kepasrahan akan nasib serupa tangan yang tidak kelihatan yang memperlakukan mereka bagai pion catur tak berdaya. Beberapa merokok, beberapa tampak tidak peduli sambil berjongkok di emperan-emperan toko di kota tua ini.
Melintasi gang-gang sempit itu, bajaj saya melewati jalan sempit becek dan berlubang. Udara padat, sesak dan menyesakkan dada, semua pengendara motor nampak bernapsu menelikung kendaraan apapun yang menghalangi jalannya sambil menghindari lubang dan becek.
Orang-orang ini, orang-orang kalah ini, bagaikan nada sumbang ditengah gempita merdu lelakon pembangunan. Sementara sang komposer sibuk menata instrumen dan tangga nada, beberapa tak sanggup mengikuti oktaf yang terlalu tinggi itu. Merekapun tertinggal. Merekapun ditinggal.. Di sudut kota tua ini..
Sekelompok buruh angkut yang bergerombol entah apa yang sedang diobrolin, sambil menyeka keringat di wajah mereka yang gelap dan berminyak. Tatapan mata yang keras ditempa sulitnya hidup, bercampur dengan sejenis kepasrahan akan nasib serupa tangan yang tidak kelihatan yang memperlakukan mereka bagai pion catur tak berdaya. Beberapa merokok, beberapa tampak tidak peduli sambil berjongkok di emperan-emperan toko di kota tua ini.
Melintasi gang-gang sempit itu, bajaj saya melewati jalan sempit becek dan berlubang. Udara padat, sesak dan menyesakkan dada, semua pengendara motor nampak bernapsu menelikung kendaraan apapun yang menghalangi jalannya sambil menghindari lubang dan becek.
Orang-orang ini, orang-orang kalah ini, bagaikan nada sumbang ditengah gempita merdu lelakon pembangunan. Sementara sang komposer sibuk menata instrumen dan tangga nada, beberapa tak sanggup mengikuti oktaf yang terlalu tinggi itu. Merekapun tertinggal. Merekapun ditinggal.. Di sudut kota tua ini..
Time zones
Here I am. Reaching the European Continent after all, after visiting the Britain, -London and Oxford in particular, back in 2006. This is a nice surprise I must admit. I just found out that this would happen some 2 months ago when the notification came just after I've already said yes for the Auckland Conference. So basically, I traveled from GMT +13 (if Jakarta is GMT +7 then adding 6 to it makes it 13 hrs) to GMT 0. Not that bad for a frequent cross continental traveler, but since I am not used to encounter that much changes in time zone, I suffered some predictable jet lag and my body adjusted to leap of time zone.
For instance, when the conference started in Auckland at 9.00 AM, it's 3 AM in Jakarta. I couldn't hold my eyelids from closing no matter what. and when the conference prolonged to 9 PM in Utrecht, it's 2 AM in Jakarta. My my, I had that sleepy head syndrome when the speakers talked, and somehow their voices becoming like longitudinal waves to my ears...I fell asleep..
For instance, when the conference started in Auckland at 9.00 AM, it's 3 AM in Jakarta. I couldn't hold my eyelids from closing no matter what. and when the conference prolonged to 9 PM in Utrecht, it's 2 AM in Jakarta. My my, I had that sleepy head syndrome when the speakers talked, and somehow their voices becoming like longitudinal waves to my ears...I fell asleep..
Recalling the butterflies
But having been away from it for a way too long, makes you forget what it is all about. Looking at the old pictures of people you fell for before, and thought, the pictures were getting paler, getting vanished, getting more irrelevant. You make several hard attempts to recollect the sensation, the throbbing chest, the vibes, the morphine-like feeling of falling in love with real people. And you almost failed recalling it. It's just that. No exaggerating. Where have they been gone, the magical colorful butterflies? Have they flown too far away to a far faraway lands of unknown? When will your migrating season be? Flocking back here, would you or would you not?
Musik dan Imajinasi
Musik Eropa adalah untuk suasana Eropa.
Musik lokal adalah untuk suasana lokal
Musik adalah buah imajinasi
dan musik membentuk imajinasi
Saya percaya itu
Saat ini saya mendengar music folk Eropa dengan sedikit irama
jenakanya
Dari soundtrack Les Miserables yang baru saya beli
minggu lalu
Ini adalah Master of the House yang dinyanyikan oleh
Sacha Baron Cohen
Dan Helena Bonham Carter, sebagai pemilik penginapan
yang jahat
Namun mau saya lupakan sejenak kebusukan di balik lagu ini
Dan mulai membayangkan suasana Eropa
Yang saya kunjungi satu setengah bulan lalu
Namun baru hari ini akhirnya saya copy beberapa foto
dari kamera teman saya
Sambil melihat foto-foto katedral
dan jalan-jalan paving abu-abu yang lembab
dan tepian penuh pohon meranggas coklat
Yang menjulang ke langit kelabu yang dingin
Serta bangunan kayu atau batu berkanopi merah dan hijau
Musik ini membuat pikiran saya berkelana lagi
Membayangkan setting lagu ini
Membayangkan sayapun sedang duduk di dalam sana:
Melihat sang pemain piano
Menghentakkan jari jemarinya dengan bertenaga
Dengan leher dimiring-miringkan
Dan wajah menghayati dinamika lagu
Mengiringi seorang penyanyi berwajah jenaka berambut
merah
Serta pemain akordeon yang memainkan instrumennya
Sambil menghentak-hentakkan kaki
Beberapa orang bercakap-cakap dalam kelompok kecil
Ada yang mengisap cerutu, ada yang minum bir
Ada yang mengunyah kacang dan keripik
Dalam ruangan berdinding batu potong dan
berlantai papan kayu
Dengan beberapa jendela kaca kotak dan
berbingkai papan
Yang nampak seperti ceruk kecil di dinding batu kelabu
tebal tersebut
Yang berkabut dan berminyak karena asap dari perapian
Ruangan yang berbau kayu dan sedikit susu, keju dan
kayu manis
Dan juga berbau tanah basah dan rumput
Sisa tanah dan rumput yang mungkin terbawa
oleh sepatu kulit lusuh para pemakai di dalamnya
Musik pun terus mengalun
Makanan dan minuman masih mengalir
Biskuit jahe dan kayu manis, limun, bir, anggur
Dan bunyi kretakan kayu api di perapian
Sementara itu, langit masih kelabu
Mari lupakan sejenak langit di luar sana
Lupakan alam yang tak bersahabat
Lupakan dingin yang menggigit kulit
Hangatkan tubuh, hangatkan jiwa
Rapatkan badan ke perapian
Ikut bernyanyi dan bedendang
Subscribe to:
Posts (Atom)



